Saya Memilih Kekayaan daripada Kebijaksanaan

*Gw pilih kekayaan daripada kebijaksanaan*

Oleh Prasetya M. Brata
Tidak ada semenit ketika kalimat di atas menjadi judul status saya di Yahoo Messenger, seorang sahabat langsung mengirim pesan : “kenapa ?”. Maksudnya, mengapa saya menulis seperti itu, kok saya lebih memilih kekayaan daripada kebijaksanaan.
Sejenak saya merasakan ‘kenikmatan’ karenagotcha … teman saya kena provokasi. Sebenarnya itu bukan murni buah pikir saya. Beberapa tahun lalu saya membaca sebuah buku yang mengisahkan, di zaman Nasrudin Hoja ada seorang hakim yang populer. Nasrudin lalu ingin menguji sang hakim. Ia mendatangi hakim dan bertanya : ‘Tuan Hakim, anda adalah orang yang dihormati di negeri ini. Seandainya boleh memilih antara kekayaan dan kebijaksanaan, Tuan pilih mana ?
Mendapat pertanyaan bernada sinis, sang Hakim langsung menjawab : ‘Ya tentu saja saya pilih kebijaksanaan …’. Ia melanjutkan, “Nah, sekarang saya balik tanya, anda sendiri pilih mana, kekayaan atau kebijaksanaan ?”.
Nasrudin diam sejenak lalu menjawab, “Kalau saya pilih kekayaan …”

Sang hakim senang karena seperti mendapat sasaran tembak. “Lho ? Anda ini bagaimana sih ? .. sebagai kaum cerdik cendikia, kenapa justru anda pilih kekayaan, bukannya kebijaksanaan ?”
Dengan tenang Nasrudin menjawab : “Nah, terbukti kan … seseorang memilih apa yang belum dimilikinya …”
Kisah itu langsung menerbangkan selubung pikiran saya. Nasrudin begitu sederhana menjelaskan motif di balik perilaku seseorang. Bagi saya, ini semacam konsep yang menyederhanakan berbagai teori motivasi, mulai dari teori motivasi sejuta umat Abraham Maslow, Frederick Herzberg, XYZ, dan puluhan teori motivasi lainnya. Apa yang kita kejar dan usahakan selama ini, memang sesuatu yang belum kita miliki. Terlepas dari apakah yang kita kejar itu dapat atau tidak.
Temuan ‘baru’ kalangan pencari rahasia (the secret) akhir-akhir ini mengatakan, untuk mendapat apa yang kita kejar, kita perlu ask – believe – receive. Fokus pikiran pada keinginan, yakin, dan bersyukur. Katanya pula, perasaan bersyukur didapat dengan berterimakasih terhadap apa yang SUDAH kita miliki. Rupanya manusia butuh 14 abad untuk membuktikan the secret-nya Tuhan dalam kitabNya : “mintalah kepadaKu, niscaya akan Kuberi”. “Kalau kamu bersyukur, Kutambahkan nikmatKu. Kalau nggak, ingat, siksaKu amat pedih (alias kita malah menderita)” …
*So, kalau anda diminta memilih kekayaan atau kebijaksanaan, anda pilih mana??*

Iklan

Tentang ILYAS AFSOH

SURABAYA NLP HIPNOTIS HIPNOTERAPI PUBLIC SPEAKING MOTIVATOR INTERNET MARKETING COACH
Pos ini dipublikasikan di blog trainer motivator. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s